Contagious Loneliness: Saat Kesepian Mulai “Menular”

15 Oktober 2026

Aku dan Diriku

Pernahkah Anda merasa hampa atau sendirian, padahal sedang berada di tengah keramaian?

Secara psikologis, kesepian adalah perasaan yang muncul ketika kebutuhan emosional seseorang tidak terpenuhi oleh interaksi sosial yang sedang dijalaninya. Seseorang bisa saja dikelilingi banyak orang, namun tetap merasa terasing jika tidak mendapatkan koneksi dan dukungan emosional yang tepat.

Menariknya, sama seperti kebahagiaan, rasa kesepian ternyata juga bisa menular.

Penelitian yang muncul di Science.org menunjukkan bahwa rasa kesepian ternyata bisa menular. Hasil studi tersebut menemukan bahwa orang yang awalnya tidak merasa kesepian cenderung lebih rentan ikut merasakan kesepian ketika mereka menghabiskan waktu bersama orang yang sedang mengalami kesepian.

Mengapa Kesepian dan Negativitas Bisa Memengaruhi Kita?

Menurut Klay Williams, seorang penulis dan pelatih gaya hidup holistik, emosi negatif seperti kesepian kerap menyebar karena tanpa sadar manusia terbiasa menyerap ekspektasi atau pesimisme dari lingkungannya.

"Kita hidup dalam masyarakat di mana ekspektasi kita terpusat dan diprogram seputar pesimisme, dan hal negatif.  Seringkali, kita mungkin menemukan diri kita dalam momen-momen kemenangan, kemudian kita berdialog dengan seorang teman yang negatif, dan entah bagaimana, di akhir percakapan itu, Anda mulai bertanya-tanya, 'Tunggu, apa benar aku boleh optimis dengan masa depanku?’"
-Klay Williams 

Jadi, saat bergaul dengan orang-orang bahagia dan positif, Anda cenderung menjadi bahagia, begitupun sebaliknya saat bergaul dengan orang yang kesepian atau negatif, Anda cenderung merasakan hal yang sama .

Apa itu Kesepian?

Kesepian adalah perasaan negatif yang muncul saat kebutuhan sosial seseorang tidak terpenuhi oleh interaksi sosial yang sedang dijalani. Jadi, seseorang memang bisa merasa kesepian, meskipun mereka dikelilingi oleh orang lain. Terlebih jika mereka tidak mendapatkan teman dan dukungan yang tepat dari teman tersebut.

Dampak Nyata Kesepian 

Kesepian adalah kondisi umum yang dialami oleh sekitar sepertiga orang dewasa. Peneliti dari Universitas Cambridge, Olivia Remes, menjelaskan bahwa kesepian bukan sekadar perasaan hampa sementara, melainkan memiliki dampak serius yang memengaruhi tubuh, pikiran, hingga perilaku sehari-hari:

1. Menurunkan Kesehatan Fisik

  • Melemahkan sistem kekebalan tubuh: Rasa terasing secara emosional dapat mengganggu daya tahan tubuh, membuat seseorang lebih rentan terhadap penyakit.

  • Meningkatkan risiko kematian dini: Risiko kesehatan akibat kesepian jangka panjang setara dengan kecanduan merokok dan penyakit diabetes.

2. Mengganggu Kesehatan Mental dan Emosional

  • Memicu depresi dan risiko bunuh diri: Tekanan emosional yang mengendap tanpa penanganan dapat berkembang menjadi gangguan mental yang lebih berat.

  • Meningkatkan rasa tertekan saat membandingkan diri: Seseorang yang merasa kesepian cenderung jauh lebih rentan tertekan ketika melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih baik atau bahagia darinya.

3. Mengubah Perilaku dan Menurunkan Kontrol Diri

  • Pola makan impulsif: Penurunan kontrol diri membuat seseorang rentan melampiaskan emosi ke makanan, seperti terbiasa mengonsumsi makanan manis atau cokelat untuk menenangkan pikiran.

  • Hilangnya motivasi merawat diri: Tubuh yang lelah secara emosional kerap kehilangan semangat untuk berolahraga atau menjaga pola hidup sehat.

  • Respons emosional yang agresif: Rasa tidak aman yang terpendam dapat membuat seseorang menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, hingga bersikap agresif kepada orang-orang di sekitarnya.

Bagaimana Mengatasi Kesepian?

Banyak yang menganggap bahwa cara paling mudah dalam mengatasi kesepian adalah berbicara dengan orang lain. Tapi, meskipun hal tersebut bisa membantu, kesepian bukanlah tentang jumlah interaksi yang Anda buat -- hal ini tentang bagaimana Anda melihat dunia dari perspektif Anda. 

Saat merasa kesepian, Anda mulai bertindak dan melihat dunia secara berbeda. Anda mungkin mulai memperhatikan ancaman di sekitar lingkungan, mulai berharap ditolak lebih sering dan menjadi lebih sering menghakimi orang lain yang berinteraksi dengan Anda. Kabar buruknya adalah orang yang Anda ajak bicara bisa merasakan hal ini dan akibatnya mulai menjauh, sehingga siklus kesepian pun akan semakin panjang.    

Untuk mengatasi kesepian dan meningkatkan kesehatan mental, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, yaitu:

  • Meningkatkan jumlah orang yang diajak bicara, 
  • Meningkatkan keterampilan sosial,
  • Belajar bagaimana memuji orang lain

Dari ketiga poin di atas, poin pertama mampu membantu Anda melihat dunia dengan cara yang berbeda dan inilah yang perlu dimiliki oleh seseorang yang merasa kesepian. 

Satu hal yang perlu diingat dari orang yang kesepian dan ingin mengatasinya adalah jangan selalu menganggap segala sesuatu sebagai sebuah penolakan. 

Misalnya, saat Anda ingin mengajak teman untuk makan malam. Teman Anda kemudian mengatakan tidak bisa memenuhi undangan, maka hindari berpikir bahwa semua ini salah Anda dan bahwa ini adalah bentuk dari penolakan. Namun, cobalah berpikir kemungkinan lainnya.
Mungkin teman Anda tidak bisa memenuhi undangan karena pemberitahuan Anda terlalu singkat dan mereka telah berjanji dengan orang lain untuk pergi. Saat Anda tidak mengaitkan “kegagalan” dengan diri sendiri, melainkan dengan keadaan, maka Anda akan merasa lebih baik dan jauh lebih tangguh untuk dapat terus maju ke depan.  

Mengatasi kesepian juga berarti belajar pelan-pelan melepaskan sinisme dan rasa ragu terhadap orang lain. Jadi, saat bertemu dengan orang baru, cobalah untuk memberi ruang bagi mereka untuk benar-benar hadir dan berinteraksi dengan Anda.

Namun, meruntuhkan "dinding pertahanan" dan mulai percaya kembali bukanlah hal yang mudah—terutama jika Anda pernah terluka atau dikecewakan di masa lalu.

Jika rasa ragu, cemas, atau sulit percaya itu terasa terlalu berat untuk diurai sendirian, Anda tidak harus melaluinya tanpa bantuan. Melalui Konseling Individu, Anda dapat menemukan ruang yang aman dan bebas dari penghakiman untuk memproses luka emosional, memahami akar kecemasan Anda, dan belajar membangun kembali koneksi yang sehat dengan orang lain. Siap untuk mulai membuka diri dan menemukan kembali kenyamanan dalam terhubung?

Mari berdiskusi dan temukan langkah pertama Anda bersama psikolog profesional di SOP.

 

Baca Juga:

  1. Ada yang Salah dengan Saya, Tapi Apa?
  2. Untuk Para Ibu yang Kelelahan
Share with love
School of Parenting School of Parenting

Membantu setiap
anggota keluarga bertumbuh

Dapatkan akses ke layanan
Asesmen • Konseling • Terapi

Mulai Dari Sini
Contact Us SOP
×

Info Masa Keanggotaan

Perpanjang Paket